HmI Manakarra Kembali Geruduk Kemenkumham Sulbar

  • Whatsapp

Sulbar – Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Manakarra kembali gelar aksi unjuk rasa menyikapi adanya dugaan kecurangan penerimaan CPNS di lingkup Kemenkumham Sulbar, Kamis 12 November 2020.

Aksi itu dinamai “Di Bumi Mala’biq Hukum Mesti Tegak” yang di Komandoi oleh Arman aktivis asal Kalukku. Aksi Unjuk rasa didepan Kantor Kemenkumham Sulbar tidak menuai hasil lantaran kantor tersebut sedang tertutup dan dilanjutkan aksi di kantor Ombudsman Sulbar.

Read More

Tak hanya berorasi secara bergantian, massa HMI juga mempertunjukkan teatrikal menghambur uang yang di print berwarna hitam putih sebagai bentuk aksi protes di kemenkumham Sulbar.

Dalam selebaran yang dibagikan, HMI Manakarra membuat sejumlah tuntutan.

Mengapa kita perlu terus menyuarakan ini? Selain karena memang ada dugaan permainan dan sudah berlangsung lama, dan berulang kali. Ini juga sebagai bentuk penegasan, bahwa dalam kata kemenkumham itu, ada hukum dan hak asasi manusia.

Tegaknya hukum dan hak asasi manusia mesti dimulai dari lembaga ini. Lembaga ini mesti bebas dari orang yang bekerja bukan karena semangat tegaknya hukum dan hak asasi manusia.

Kita tidak menginginkan, aparatur negara kita di isi oleh mereka yang secara moral sudah cacat sedari awal. Kita tidak bisa membayangkan, bagaimana jika ini dibiarkan.

Misalnya: akan adanya berita penyelundupan barang haram di lapas lapas kita. Akan adanya remisi yang diperjualbelikan. Dan, lebih dari pada itu, generasi bangsa kita akan rusak, karena dijejali pikiran: bila ingin lolos seleksi, membayar adalah solusi.

Dari aksi yang pertama, kita bisa melihat, betapa memang ada masalah dipenerimaan ini. Itu bisa dilihat dari testimoni dari beberapa peserta.

“Saya juga salah satu pendaftar saya tau betul, karena ada beberapa orang di sesi saya, lari hanya 3-4 putaran, pul up 1-3 bahkan ada 0, push up & sit up tidak sampak 20. Pas nilai keluar dan dipublikasikan (nilai larinya sampai 7 putaran (2800-3100) pul up jadi 15 lebih, pus up dan sit up 40 lebih bahkan ada suttle run 11, 3 detik. Ini mustahil,” kata Ibnu Ali.

“Saya juga salah satu peserta CPNS Kemenkumham, tentu saya sepaham dengan teman2 HMI bahwa ada permainan di nilai SAMAPTA,” kata Muh. Baasith.

“”Saya juga salah satu peserta, banyak nilai tidak sesuai yang di lapangan dengan di pengumuman,” Putra Sanur.

“Bukan cuma suttle run 11 detik yang tidak masuk akal, tapi chinning untuk wanita yang sampai 86 kali dalam se menit. Itu tak masuk akal,” Kata Udin.

Belum lagi keterangan, Ketua Ombudsman Sulbar, Lukman Umar, yang ketika meminta hasil rekapan tes samapta, namun tidak diberikan oleh Kanwil Kemenkumham Sulbar. Dengan alasan: semua berkas telah dikirim.

Kok bisa sekelas kantor wilayah tak punya arsip. Ada apa?

Karena itu, untuk menjaga ritme gerakan, dan sebagai upaya merawat ingatan publik. Meski, Kanwil Kemenkumham Sulbar tutup, kami, HMI, tetap turun aksi, dan menuntut seperti aksi pertama:

1. Polda Sulbar dan Stakeholders yang terkait mengusut tuntas semua orang yang diduga terlibat pada dugaan kecurangan dites kesamaptaan itu.

2. Kemenkumham Sulbar untuk membuka ke publik rekapan awal hasil tes kesamaptaan.

3. Kemenkumham Sulbar menunda sementara pemberkasan peserta yang lolos. Sebelum selesainya pengusutan dugaan kecurangan itu.

4. Mendesak Ombudsman Sulbar mengeluarkan rekomendasi ke Kemenkumham, Yasona Laoli, soal ketak becusan Kanwil Kemenkumham Sulbar dalam seleksi Cpns tahun 2019.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *